Norma Wanita Mapan 35 Tahun Mencari Calon Suami Budiman

Ganteng, keren, punya mobil sendiri, badan tinggi atletis dan perut six pack, rapi, wangi, tidak merokok, bukan fakboy, serta mapan di usia muda. Itulah kriteria jodoh atau calon suami yang aku dulu pernah impikan. Nyatanya, impian yang membuatku terobsesi tersebut memberikan dampak yang buruk dalam kehidupan.

Standarku ketinggian untuk hal jodoh. Akhirnya aku tidak bisa melihat laki-laki dari sisi baik mereka. Selalu saja ada kekurangan yang aku lihat dari setiap laki-laki yang mencoba mendekatiku. Alhasil, aku tidak pernah sedikit pun menyukai mereka. Jangankan untuk jatuh cinta, mendekati mereka pun aku merasa enggan.

Norma Wanita Mapan 35 Tahun Mencari Calon Suami Budiman

Namaku Norma, seorang wanita yang sudah memiliki usia dewasa, tiga puluh tiga tahun. Lahir di sebuah keluarga sederhana dipinggiran kota Denpasar. Mungkin agak aneh seorang wanita kelahiran Bali, tapi memiliki nama Norma, ya kan? Sebenarnya tidak aneh, karena aku lahir dari orang tua yang asli berasal dari Surabaya. Hanya saja, mereka memutuskan untuk memulai usaha pribadi di Bali sebagai pengelola penginapan kecil-kecilan.

Biodata dan referensi singkat Norma

BiodataInformasi
Nama lengkapFitri Normaliah
Nama Norma
Kota kelahiranDenpasar, Bali
Umur35 tahun
Status pernikahanSingle
ZodiakCancer
PekerjaanWiraswasta
No. KontakOpen WhatsApp
Kriteria jodoh idamanSingle / duda usia maks. 40 tahun

Profil singkat Norma

Aku bekerja sebagai pengelola di sebuah jasa tur dan travel yang ada di kota Denpasar. Aku memilih mengembangkan usaha tur dan travel, karena bisnis pariwisata adalah bisnis yang paling menguntungkan di propinsi Bali.

Tidak terhitung jumlahnya wisatawan lokal dan manca negara yang setiap tahun datang ke Bali. Oleh karena itulah, bisnis tur dan travel bisa terus berjalan tanpa ada hambatan yang berarti. Hanya di tahun 2020 ini usaha tur dan travel yang agak berkurang pelanggannya, karena adanya wabah virus corona.

Aku adalah seorang wanita yang mandiri, dan tidak ingin merepotkan orang lain. Pendidikan terakhirku adalah diploma tiga dari sebuah akademi pariwisata yang cukup terkenal disini. Tinggi badanku semampai 160 sentimeter, dan berat badan 55 kilogram, agak sedikit chubby sih, tapi tetap aja terlihat manis dengan warna kulit khas Indonesia yang kuning langsat.

Selain di bidang tur dan travel, aku juga pernah bekerja di beberapa hotel di sekitaran kota Denpasar. Dan setelah merasa cukup mendapatkan pengalaman, aku nekat membuka sendiri jasa tur dan travel resmi dengan modal yang aku kumpulkan saat bekerja di hotel.

Sungguh disayangkan, sampai saat ini aku belum saja menemukan jodoh yang aku harapkan. Aku memang memiliki selera dan standar tinggi, namun aku sadar bahwa menerapkan standar yang berlebihan adalah bukan sebuah hal yang baik. Aku tobat, dan tidak ingin memandang orang sebelah mata lagi.

Aku memang terlahir sebagai anak yang senang bermanja, mungkin hal inilah yang membuatku seperti itu. Meskipun demikian, aku ini orangnya supel, senang berteman dengan siapa saja, dan hobi memasak. Kalau tidak ada pekerjaan, biasanya aku mengisi waktu dengan memasak kue-kue kering atau roti.

Kata teman-teman, masakanku enak dan tidak kalah rasanya dengan roti atau kue kering yang di jual di toko-toko roti mahal. Oleh karena itulah, di saat sepi order aku juga membuka order jualan roti atau kue kering secara online. Hasilnya lumayan untuk menambah isi tabungan, hehehe.

Kriteria calon suami idaman Norma

Masa lalu, biarlah menjadi masa lalu. Hal kelam di masa dulu, ingin aku kubur selamanya. Aku terus memperbaiki diri, dan selalu mencoba mengerti bahwa tidak ada satu pun orang yang terlahir sempurna.

Selalu ada kekurangan dan kelebihan di dalam setiap diri manusia, dan aku belajar untuk menerima hal itu.

Aku berharap suatu saat bisa menemukan calon suami atau jodoh seorang lelaki yang budiman, memiliki pekerjaan tetap, serius dalam berumah tangga, dan tidak merokok. Untuk suku, aku lebih memilih Jawa atau Bali. Dan usia maksimal empat puluh tahun. Status pernikahan boleh masih dalam kondisi lajang atau duda tanpa anak.

Demikian dulu dari aku, dan terima kasih sudah menyempatkan membaca cerita hidupku ini. Jabat erat dari kota Denpasar, terima kasih!

Tinggalkan komentar