Tinah Janda Sederhana Mencari Pasangan Suami Rumahan

Kita hidup di era modern. Teknologi sudah sedemikian maju dan zaman semakin canggih. Namun, sungguh di sayangkan, ada saja yang masih melakukan praktek perjodohan ala film klasik Siti Nurbaya. Dimana orang tua dari kedua belah pihak laki-laki dan perempuan memasangkan anak mereka sedari kecil agar kelak akan di nikahkan saat memasuki usia dewasa.

Hal ini terjadi pada diriku. Sebagai seorang gadis yang manut kepada orang tua dan adat istiadat di tanah kelahiran, awalnya aku tidak keberatan untuk di jodohkan dan di nikahkan dengan lelaki yang tidak lain merupakan anak dari rekan ayahku.

Tinah Janda Sederhana Mencari Pasangan Suami Rumahan

Rekan kerja ayahku ini memang seorang yang terpandang di tanah kelahiranku. Sedangkan aku adalah anak dari kepala desa. Nah, agar hubungan usaha bisa berlangsung di masa yang akan datang, akhirnya aku di jodohkan dengan lelaki yang sebenarnya tidak aku kenal.

Hari pernikahan telah tiba, dan pesta pernikahan di gelar dengan sangat meriah. Sesuai dengan adat istiadat di daerah kami, pesta pernikahan di laksanakan non stop selama tiga hari berturut-turut. Ratusan bahkan ribuan tamu datang setiap hari, dan jamuan makan tidak pernah terhenti setiap waktu.

Singkatnya, kami memulai hidup sebagai pasangan suami istri. Selama tiga bulan pertama menikah, hubungan kami baik-baik saja. Suami bekerja sebagai pengawas pabrik kayu milik ayahnya, dan biasa pulang saat maghrib. Namun, setelah memasuki bulan ke empat, watak suami mulai terlihat.

Dia ternyata tipikal seorang yang tidak bisa mengendalikan emosi saat marah. Kalau marah, dia akan menggebrak-gebrak meja dan melempar benda-benda yang ada di dekatnya. Terkadang juga bisa menjadi ringan tangan. Setidaknya dia pernah beberapa kali memukulku dengan tangan kosong.

Awalnya hal ini aku diamkan saja, karena takut orang tua kami mengetahuinya. Akan tetapi, para tetangga yang mengetahui hal tersebut ternyata tak tinggal diam. Mereka rupanya kasihan dengan kondisiku yang sering menjadi tempat bulan-bulanan pelampiasan amarah suami. Para tetangga melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orang tuaku.

Tak lama berselang, aku di panggil untuk menemui kedua orang tua. Dan tak disangka, ternyata orang tua juga tidak suka dengan perbuatan yang di lakukan oleh suami. Dengan terbata-bata, aku mengungkapkan keinginan untuk keluar dari desa dan tinggal bersama kerabat di luar daerah.

Akhirnya, aku tinggal bersama bibi ku yang sudah lama di tinggal paman meninggal. Beliau memiliki seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas satu SMP. Tak terasa, sudah dua tahun aku berada di tempat bibi ku. Dan disini aku belajar mandiri dan bekerja tanpa bantuan dari orang tua. Bibiku senang karena memiliki teman di rumah beliau, dan aku pun senang karena bisa membantu kehidupan beliau, karena beliau sudah tidak dapat bekerja lagi.

Di desa, mantan suami ternyata sudah menikah kembali, dan pengadilan agama daerah resmi menjatuhkan cerai dengan bukti surat cerai yang di simpan oleh orang tuaku.

Biodata dan Referensi Tinah

BiodataInformasi
Nama lengkapKartinah
Nama panggilanTinah
Kota kelahiranPurwantoro, Jawa tengah
Umur27 tahun
Status pernikahanJanda tanpa anak
ZodiakPisces
PekerjaanSwasta
No. KontakOpen WhatsApp
Kriteria jodoh idamanSingle / duda usia maks. 35 tahun

Profil Singkat Tinah

Aku hanyalah seorang gadis desa yang lugu. Banyak waktu luang aku habiskan untuk merawat kebun kecil milik bibi. Sedangkan sejak pagi sampai sore, aku bekerja di sebuah tempat wisata sebagai pengurus tempat wisata. Gajinya tidak besar, tapi masih bisa mencukupi biaya hidup karena harga bahan makanan dan sembako di tempat kami sangat terjangkau.

Tinggi badanku 155 sentimeter, dengan berat badan 48 kilogram. Paras wajah sederhana saja, bahkan cenderung biasa sekali karena aku tidak pandai menggunakan peralatan rias. Aku adalah tipe wanita penyayang, mudah tersentuh hatinya, bisa memasak, dan juga nggak neko-neko alias apa adanya.

Kriteria Calon Suami Idaman Tinah

Rasanya ada yang tidak komplit di dalam kehidupanku. Di usiaku yang sudah dua puluh tujuh tahun aku masih belum bisa menemukan calon suami yang sreg. Mungkin ini merupakan pengaruh dari kegagalan rumah tangga di masa lalu, dan ada sedikit trauma yang masih sering terbayang di dalam benakku.

Akan tetapi aku mencoba untuk membuka diri, agar bisa menemukan kembali seorang laki-laki muslim yang baik. Kriterianya sudah bekerja, penyayang, penyabar, tidak suka keluyuran malam, dan serius. Usia maksimal 35 tahun dan status duda atau single tidak menjadi masalah.

Tinggalkan komentar